Ketahanan Pangan Kaitannya Dengan Sektor Peternakan

Ketahanan pangan merupakan isu strategis bagi Indonesia, terutama dalam sektor peternakan yang berperan penting dalam menyediakan protein hewani seperti daging, susu, dan telur.

Kebijakan Terkini tentang Ketahanan Pangan & Peternakan

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beberapa kebijakan dan regulasi untuk memperkuat ketahanan pangan melalui peternakan, antara lain:

  • Perpres No. 125/2022 tentang Strategi Nasional Ketahanan Pangan: Memperkuat produksi pangan lokal, termasuk daging sapi, ayam, dan telur, dengan fokus pada swasembada pangan.
  • Program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks): Mendorong peningkatan produksi peternakan untuk ekspor sekaligus memenuhi kebutuhan dalam negeri.
  • Insentif bagi Peternak Rakyat: Bantuan pakan ternak murah, vaksinasi gratis, dan pembangunan kandang modern untuk meningkatkan produktivitas.
  • Regulasi Impor Ternak: Pembatasan impor daging sapi hidup (bakalan) untuk melindungi peternak lokal.

Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat rantai pasok pangan hewani.

Kondisi Terkini Ketahanan Pangan (Sektor Peternakan) di Indonesia

Saat ini, Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan dan kemajuan dalam ketahanan pangan peternakan:

Kenaikan Produksi Daging Ayam & Telur: Indonesia sudah swasembada ayam ras dan telur, dengan produksi mencapai 4 juta ton daging ayam/tahun.

Ketergantungan Impor Daging Sapi: Masih mengimpor sekitar 30% kebutuhan daging sapi, terutama dari Australia.

Peran Peternakan Rakyat: 60% produksi susu masih bergantung pada peternak kecil dengan produktivitas rendah.

Krisis Pakan Ternak: Harga jagung dan kedelai (bahan pakan) masih fluktuatif, memengaruhi biaya produksi.

Pemerintah terus mendorong modernisasi peternakan dan efisiensi rantai pasok untuk memperkuat ketahanan pangan.

Tantangan dalam Mencapai Ketahanan Pangan (Sektor Peternakan)

Beberapa kendala utama yang dihadapi:

  • Harga Pakan Ternak yang Tinggi: Ketergantungan pada impor jagung dan kedelai meningkatkan biaya produksi.
  • Produktivitas Peternakan Rakyat yang Rendah: Mayoritas peternak masih menggunakan teknik tradisional, sehingga hasilnya kurang optimal.
  • Penyakit Hewan (AI, PMK): Wabah Avian Influenza (AI) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mengancam stok ternak.
  • Infrastruktur yang Belum Memadai: Kurangnya cold storage dan rantai distribusi efisien menyebabkan tingginya food loss.

 

Peluang & Manfaat bagi Masyarakat Indonesia

Meski ada tantangan, sektor peternakan menawarkan peluang besar:

Peningkatan Ekonomi Lokal: Peternakan dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan peternak.

Pengembangan Peternakan Berkelanjutan: Teknologi biogas dari kotoran ternak dan integrasi tanaman-ternak bisa jadi solusi ramah lingkungan.

Pasar Ekspor yang Menjanjikan: Produk seperti daging ayam olahan dan susu memiliki potensi ekspor ke ASEAN dan Timur Tengah.

Inovasi Pakan Lokal: Penggunaan maggot (larva BSF) dan limbah pertanian sebagai alternatif pakan murah.

Sumber Referensi

  1. Kementerian Pertanian RI (https://www.pertanian.go.id)
  2. Badan Pusat Statistik (BPS) – Data Produksi Peternakan 2023
  3. Perpres No. 125/2022 tentang Strategi Nasional Ketahanan Pangan
  4. FAO Report on Indonesia’s Livestock Sector (2023)
  5. Asosiasi Produsen Pakan Ternak Indonesia (APPERTI)

Kesimpulan

Ketahanan pangan di sektor peternakan Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam produktivitas, pakan ternak, dan penyakit hewan. Namun, dengan kebijakan yang tepat, inovasi teknologi, dan dukungan kepada peternak kecil, Indonesia berpeluang mencapai swasembada pangan hewani yang berkelanjutan.

Bagikan artikel ini :

Artikel Lainnya

Ketahanan Pangan - Peternakan